Pilihan Teknik Penutupan Luka Laserasi Kulit

Oleh :
dr. Sonny Seputra, Sp.B, M.Ked.Klin, FINACS

Teknik penutupan luka laserasi telah berkembang secara signifikan, dari penggunaan jahitan sederhana hingga penggunaan staples dan perekat luka tanpa jahitan. Dengan semakin banyaknya alternatif, maka pemilihan tiap teknik penutupan luka laserasi penting diketahui.[1]

Luka laserasi merupakan penyebab umum kunjungan pasien ke instalasi gawat darurat. Di Amerika Serikat, kasus luka laserasi menyumbang sekitar 8,2% dari keseluruhan kunjungan ke instalasi gawat darurat. Tujuan dari manajemen luka laserasi adalah mencapai hemostasis dan  kosmetik yang baik, tanpa meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi lainnya.[2,3]

shutterstock_1433618768-min

Pemilihan Teknik Jahitan untuk Penutupan Luka Laserasi

Apabila luka laserasi akan dijahit, maka perlu diperhatikan beberapa aspek, termasuk bentuk luka, lokasi luka, dan pilihan jenis benang jahit.

Pemilihan Teknik Jahitan

Hingga kini, belum ada bukti ilmiah dan pedoman adekuat untuk memandu pemilihan teknik jahitan untuk luka laserasi. Jahitan satu lapis telah dilaporkan menghasilkan luaran kosmetik yang lebih baik dibandingkan jahitan berlapis pada luka di wajah. Jahitan satu lapis juga lebih cepat dan cost-effective untuk laserasi kulit kepala.

Jahitan jelujur sederhana dilaporkan menghasilkan lebih sedikit dehisensi dibandingkan jahitan terputus pada luka bedah. Jahitan jelujur sederhana juga praktis dan lebih cepat jika luka laserasi berukuran lebih panjang. Namun, seluruh jahitan akan terlepas jika tidak sengaja digunting atau diperlukan pemasangan drainase di kemudian hari.

Jahitan matras dapat dipertimbangkan untuk melakukan eversi pada tepi luka. Tetapi, perlu berhati-hati karena jahitan matras bisa menyebabkan nekrosis luka dan jaringan parut berlebih.[4]

Pertimbangan Menggunakan Benang Absorbable

Luka laserasi akibat trauma berbeda dengan luka pembedahan. Luka insisi bedah berbentuk linier dan terjadi dalam kondisi yang steril. Sedangkan, kasus luka laserasi yang umum ada di instalasi gawat darurat sering berbentuk gerigi atau tidak beraturan dan bervariasi. Selain itu, tingkat kontaminasi luka bisa jauh lebih besar, tergantung pada mekanisme cedera yang terjadi. Secara umum, luka laserasi kulit dapat ditutup menggunakan benang absorbable bila ukuran luka tidak terlalu besar, bentuk luka linier, dan kontaminasi minimal.[3]

Penggunaan jahitan yang absorbable akan memberi banyak keuntungan. Ketika jahitan yang dapat diserap digunakan, pasien tidak perlu kembali kontrol untuk melepas jahitan. Ini berarti pasien dewasa akan kehilangan lebih sedikit waktu kerja dan pasien anak akan lebih sedikit melewatkan waktu sekolah. Dalam beberapa kasus, kunjungan kontrol dilakukan di instalasi gawat darurat, sehingga dengan berkurangnya jumlah kunjungan akan dapat mengurangi waktu tunggu dan kepadatan di instalasi gawat darurat.

Pada pasien anak, pelepasan jahitan sering membuat anak cemas dan stres, sehingga penggunaan benang absorbable akan mengurangi hal ini.

Walau demikian, umumnya harga benang absorbable lebih mahal dibandingkan benang yang tidak bisa diserap (non absorbable). Benang absorbable juga tidak bisa digunakan pada luka yang sangat terkontaminasi ataupun terinfeksi.[3,5,6]

Pengaruh Lokasi Luka

Perlu juga dipahami bahwa lokasi luka akan menentukan kecepatan penyembuhan luka. Luka laserasi pada wajah lebih cepat sembuh dibandingkan luka laserasi pada ekstremitas atau trunkus karena vaskularisasi yang sangat baik pada wajah. [7-9]

Jika luka laserasi terjadi di mukosa, seperti bibir atau genital, benang absorbable lebih dipilih. Teknik jahitan bisa menggunakan jahitan terputus sederhana atau jahitan jelujur sederhana.[4]

Luka laserasi pada jari, tangan, dan lengan yang tidak melibatkan cedera jaringan dalam (deep tissue injury) dapat diterapi oleh dokter umum. Luka ini bisa dijahit menggunakan benang nylon 4-0 atau 5-0. Pasien perlu dirujuk jika dicurigai cedera melibatkan tendon, saraf, otot, pembuluh darah, tulang, atau nail bed.[1,3,4,10,11]

Luka pada kulit kepala biasanya mengalami perdarahan yang banyak karena vaskularisasi yang kaya. Jika cedera intrakranial dapat dieksklusi, lakukan kontrol perdarahan dan eksplorasi luka. Pencukuran rambut kepala jarang diperlukan. Apabila terdapat laserasi galea yang berukuran lebih dari 0,5 cm, disarankan jahitan menggunakan benang absorbable ukuran 2-0 atau 3-0. Bagian kulit dapat dijahit menggunakan jahitan terputus, matras, atau jelujur dengan benang nylon 3-0 atau 4-0.[4]

Teknik Penutupan Luka Laserasi Lainnya : Staples dan Perekat

Selain dengan penjahitan, penutupan luka laserasi sederhana juga dapat dilakukan dengan staples dan perekat (adhesive tapes).

Staples

Keuntungan penggunaan staples adalah pemasangannya yang cepat. Hal ini sangat berguna dalam situasi di mana luka memiliki perdarahan yang banyak atau saat terjadi korban massal sehingga banyak luka perlu ditangani segera. Staples juga banyak digunakan untuk menutup luka sayatan operasi.

Staples telah dilaporkan memberi waktu penyembuhan yang sama dengan teknik jahitan. Kejadian infeksi dilaporkan lebih rendah dibandingkan dengan teknik jahitan.

Kekurangan teknik staples adalah ketersediaannya yang masih jarang di Indonesia. Selain itu, beberapa studi mengaitkan penggunaan staples dengan nyeri yang lebih signifikan dibandingkan teknik jahitan.[1,12]

Perekat

Pada luka yang tidak terlalu lebar atau luka laserasi sederhana pada anak, perekat kulit (adhesive tapes) sangat berguna karena dapat diaplikasikan dengan cepat, relatif tidak menimbulkan nyeri, dan tidak membutuhkan anestesi. Perekat luka juga merupakan pilihan tambahan yang berguna untuk menguatkan jahitan pada luka yang dalam.

Perekat luka memiliki keuntungan berupa peradangan luka yang minimal, tingkat infeksi lebih rendah daripada teknik jahitan, dan mudah dilepas. Studi juga menunjukkan bahwa penggunaan perekat dapat menghasilkan bekas luka yang lebih baik dibandingkan teknik penjahitan kulit. [1,13] Dengan menggunakan perekat, tusukan pada kulit yang sehat oleh jarum jahit dapat dihindari. Infeksi pada titik masuk dan keluarnya jarum jahit dan  jarum suntik anestesi di sekitar luka juga bisa dihindari, serta tidak perlu dilakukan pengangkatan jahitan.

Walau demikian, indikasi penggunaan perekat luka sangat terbatas. Perekat luka hanya cocok digunakan pada luka yang dangkal dengan tegangan rendah di dahi, pipi, dagu, dada, dan bagian organ nonartikular lainnya.[14-16]

Kesimpulan

Tujuan dari penutupan luka laserasi adalah mencapai hemostasis dan  kosmetik yang baik, tanpa meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi lain seperti terbentuknya jaringan parut. Terdapat beberapa teknik penutupan luka laserasi yang dapat dipilih, seperti penjahitan, staples, dan penggunaan perekat (adhesive tape).

Dalam penjahitan luka, perlu dipikirkan untung-rugi pemilihan teknik jahitan dan jenis benang berdasarkan bentuk luka, lokasi, luka, dan faktor klinis lain. Staples dan perekat memiliki keuntungan berupa pemasangan yang cepat, risiko infeksi yang lebih kecil, dan bekas luka yang lebih baik. Namun, staples dan perekat tidak bisa digunakan pada semua jenis luka dan ketersediaannya di Indonesia masih terbatas.

Tonton video teknik jahit luka simple continuous di sini dan teknik jahit luka matras di sini.

Referensi