Manfaat dan Risiko Suplementasi Protein Whey

Oleh :
dr.Putra Rizki Sp.KO

Suplemen protein whey atau protein shake adalah suplemen makanan populer yang banyak digunakan untuk diet dan menambah massa otot. Suplemen ini mudah didapatkan masyarakat, bahkan tanpa pengawasan tenaga ahli. Meski ada bukti yang mendukung manfaat suplementasi protein whey, ada pula beberapa laporan yang mengindikasikan bahwa suplemen protein whey membawa risiko seperti hiperfiltrasi dan peningkatan ekskresi kalsium urin.[1-3]

Manfaat Suplementasi Protein Whey

Menurut konsensus internasional, referensi asupan protein harian untuk populasi orang dewasa yang sehat adalah 0,8 g/kg berat badan. Sementara itu, untuk orang yang melakukan latihan fisik atau dalam program latihan, kebutuhan protein bisa meningkat antara 1,2-2 g/kg berat badan.

ProteinWhey

Suplementasi protein whey merupakan suplemen protein yang paling banyak digunakan di kalangan atlet dan praktik kedokteran olahraga. Beberapa studi kecil dan studi pada hewan mengindikasikan manfaat suplementasi protein whey, tetapi belum ada bukti kualitas tinggi yang meyakinkan yang menunjukkan manfaatnya secara klinis, misalnya pada kasus sarcopenia.[4,5,7,11]

Sintesis Protein dan Massa Otot

Protein whey memainkan peran penting dalam sintesis protein. Secara teori, konsumsi protein whey dapat meningkatkan massa otot, dan metabolisme karbohidrat yang menyediakan energi pada saat berolahraga dan latihan fisik sehingga meningkatkan kinerja fisik dengan baik. Meski demikian, efek yang bermakna secara klinis belum dibuktikan oleh penelitian dengan kualitas bukti yang meyakinkan.[3,4]

Efek Antioksidan

Selain sebagai sumber protein, suplemen protein whey juga telah dilaporkan memiliki efek antioksidan meskipun basis buktinya masih lemah. Efek ini muncul akibat kandungan peptida bioaktif dan asam amino sulfurnya. Studi menunjukkan bahwa penambahan 1% protein whey terhidrolisis ke minuman lemon efektif dalam meningkatkan aktivitas antioksidan. Meski begitu, suplementasi protein whey tidak secara signifikan mengubah aktivitas antioksidan minuman lain yang mengandung 0,0032% lutein.[4,6]

Manfaat pada Resistensi Insulin

Suplementasi protein whey menghasilkan penurunan signifikan kadar insulin puasa dan HOMA-IR (Homeostatic Model Assessment for Insulin Resistance) pada tikus Wistar dengan resistensi insulin yang disebabkan oleh diet tinggi lemak. Hasil tes toleransi glukosa oral juga secara signifikan lebih baik pada kelompok yang diberi suplemen protein whey 15% dalam makanannya. Meski begitu, belum diketahui pasti apakah efek yang sama juga didapatkan pada manusia.[6,7]

Risiko Kesehatan Suplementasi Protein Whey

Manfaat suplementasi protein whey masih belum didukung oleh bukti yang kuat. Di sisi lain, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa suplementasi protein whey mempengaruhi fungsi ginjal dan hepar.[8-11]

Risiko Terhadap Ginjal

Suatu tinjauan sistematik menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang dilengkapi dengan asupan protein whey jangka pendek dapat meningkatkan kadar urea plasma, meningkatkan volume urin, meningkatkan ekskresi kalsium urin, menurunkan pH urin, dan menurunkan kadar sitrat urin. Penurunan pH urin bersamaan dengan hipositraturia dan hiperkalsemia diketahui sebagai faktor risiko nefrolitiasis.[5,9,10]

Risiko Terhadap Hepar

Bukti mengenai dampak protein whey pada fungsi hati masih menunjukkan hasil berbeda-beda. Terdapat studi kecil label terbuka yang menunjukkan efek menguntungkan, termasuk penurunan steatosis hati dan stres oksidatif pada pasien dengan non-alcoholic steatohepatitis (NASH). Sementara itu, ada studi lain yang menemukan perburukan pada penanda fungsi hati, seperti aspartate aminotransferase (AST) dan kadar urea.

Sebuah studi terhadap individu yang menggunakan suplemen protein whey sebagai peningkat performa olahraga, menunjukkan bahwa 8% pasien mengalami peningkatan derajat 3-4 dari alanine aminotransferase (ALT) dan AST. Studi pada tikus juga menemukan peningkatan penanda stres oksidatif hati dan hepatotoksisitas.[5,8,9,11]

Perburukan atau Terjadinya Acne

Beberapa studi kecil pada manusia secara konsisten menunjukkan adanya peningkatan keparahan dan perkembangan lesi acne pada individu yang mengonsumsi suplemen protein whey untuk keperluan latihan dan peningkatan massa otot. Perbaikan gejala acne dilaporkan setelah konsumsi suplemen dihentikan.[8]

Risiko Terhadap Tulang

Studi yang mengevaluasi dampak suplementasi protein whey pada metabolisme tulang masih menunjukkan hasil yang beragam. Suatu studi preklinis menemukan bahwa asupan protein tinggi pada model murine menyebabkan penurunan kepadatan tulang seiring dengan perubahan pH urin dan konsentrasi kalsium.

Dalam sebuah studi pada manusia, ditemukan penurunan kadar kalsidiol dan kalsium serum, bersamaan dengan penurunan kadar hormon paratiroid. Meski begitu, ada juga studi yang melaporkan tidak ada dampak signifikan terhadap kepadatan mineral tulang pada wanita menopause.[8]

Waspada Terhadap Kelebihan Asupan Protein

Protein adalah zat biologis aktif yang memiliki beberapa fungsi dalam tubuh, seperti membentuk hormon, enzim, dan struktur seluler. Penggunaan suplementasi protein dapat bermanfaat saat latihan fisik untuk menjaga massa otot dan menghindari proteolisis. Meski begitu, kelebihan asupan protein juga dapat memberi efek toksisitas protein.[1,11,12]

Seberapa Banyak Protein Yang Disebut Kelebihan Protein

Dosis ideal protein whey yang harus dikonsumsi seseorang bervariasi sesuai dengan tujuan, tingkat aktivitas fisik, dan komposisi tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dosis antara 20-25 g/hari sudah cukup untuk mencapai manfaat yang diharapkan, sedangkan dosis di atas 40 g/hari berhubungan dengan kemungkinan efek buruk pada organ.[3,8,11]

Ada 3 ukuran berbeda dalam mendefinisikan asupan protein yang harus diperhatikan, yaitu asupan absolut (g/hari), asupan terkait berat badan (g/kg/hari), dan asupan sebagai bagian dari total energi (persen energi). Asupan protein maksimum yang disarankan berdasarkan kebutuhan tubuh untuk pengendalian berat badan dan menghindari toksisitas protein adalah sekitar 25% dari kebutuhan energi atau sekitar 2-2,5 g/kg/hari yang setara dengan 176 g protein/hari pada individu berbobot 80 kg dan dengan diet 12.000 kJ/hari.[3,11]

Meskipun diet tinggi protein populer untuk menurunkan berat badan dan pengendalian gula darah pada diabetes, bukti menunjukkan adanya efek buruk pada fungsi ginjal. Asupan protein yang terlalu tinggi dapat mencetuskan hipertensi intraglomerular, yang dapat menyebabkan hiperfiltrasi ginjal, cedera glomerulus, dan proteinuria. Selain itu, ada kemungkinan bahwa asupan protein tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis.[7,10,12[

Kecepatan saluran pencernaan menyerap asam amino dari protein makanan sekitar 1,3-10 g/jam dan kapasitas hati untuk mendeaminasi protein dan memproduksi urea untuk ekskresi nitrogen berlebih merupakan salah satu kunci kenapa asupan protein tidak boleh berlebihan. Tingkat kebutuhan protein harian sebesar 0,8 g/kg/hari, sedangkan diet tinggi protein menganjurkan asupan protein 200-400 g/hari, yang setara dengan sekitar 5 g/kg/hari. Ini dapat melebihi kapasitas hati untuk mengubah kelebihan nitrogen menjadi urea.[5,11]

Kesimpulan

Suplementasi protein whey populer digunakan dan bisa secara bebas didapat masyarakat tanpa pengawasan ahli. Meski ada bukti terbatas yang menunjukkan manfaat kesehatan dari suplementasi protein whey, asupan protein yang berlebihan juga membawa risiko kesehatan signifikan. Asupan berlebihan dari protein whey dalam jangka panjang dapat menyebabkan disfungsi ginjal, disfungsi hepar, memperburuk lesi acne, dan diduga berpengaruh terhadap kepadatan tulang.

Referensi