Pengaruh Kebiasaan Menghisap Empeng Terhadap Struktur Orofasial

Oleh :
dr. drg.Fiesta Ellyzha Eka Hendraputri

Abnormalitas struktur orofasial dipercaya berkaitan dengan kebiasaan menghisap empeng, termasuk maloklusi dental dan anterior overbite. Artikel ini mengevaluasi bukti ilmiah terkait kepercayaan tersebut.

Empeng sering digunakan karena dianggap bermanfaat menenangkan bayi, memberi rasa nyaman saat ingin tidur atau saat nyeri pada waktu gigi tumbuh, dan mencegah kebiasaan menghisap jari.[1] Penggunaan empeng pada bayi di negara berkembang dilaporkan mencapai 42,5%.[2]

Pengaruh Kebiasaan Menghisap Empeng Terhadap Struktur Orofasial-min

Empeng umumnya terbuat dari puting susu lateks atau silikon dengan gagang plastik yang memiliki berbagai macam bentuk dan ukuran. Secara umum, terdapat tiga jenis empeng yaitu empeng konvensional, empeng fungsional, dan empeng orthodontik.[1] Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan empeng konvensional dapat mengganggu tumbuh kembang struktur orofasial, menyebabkan infeksi, mempersingkat durasi menyusui, dan menyebabkan maloklusi gigi.[3,4] Sementara itu, empeng orthodontik dilaporkan memiliki lebih sedikit efek samping terhadap struktur orofasial. [5] Akan tetapi, penelitian baru-baru ini menunjukan bahwa leher putting susu yang tipis pada empeng mengurangi insidensi anterior open bite dan meningkatkan overjet.[6]

Kelainan Struktur Orofacial yang dapat Ditimbulkan oleh Penggunaan Empeng

Efek dari kebiasaan menghisap empeng dipengaruhi oleh durasi dan frekuensi penggunaannya.[4] Semakin lama durasi dan semakin sering frekuensi penggunaan, maka semakin besar efek yang ditimbulkan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan empeng jangka panjang dapat menimbulkan kelainan seperti maloklusi gigi, anterior open bite, posterior crossbite, overjet berlebih, serta kelainan hubungan kaninus dan molar. Hal tersebut, menyebabkan ketidakharmonisan susunan gigi geligi, sehingga dapat mengganggu sistem stomatognatik. Empeng fungsional dan orthodontik dilaporkan memiliki lebih sedikit risiko menyebabkan maloklusi gigi dibandingkan dengan empeng konvensional.[7-10]

Maloklusi Gigi

Anak yang menggunakan empeng berpotensi memiliki susunan gigi yang tidak rata. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh tekanan dan pergerakan otot mulut. Gerakan otot mulut dapat mempengaruhi perkembangan otot dan pertumbuhan rahang, sehingga berpotensi menyebabkan susunan gigi menjadi berjejal. Kondisi tersebut dapat menjadi faktor risiko terjadinya karies gigi dan penyakit periodontal.[11]

Anterior Open Bite

Efek kebiasaan menghisap empeng pada bayi adalah potensi open bite, yaitu kondisi space terbuka ketika gigi depan sudah menutup. Hal tersebut dapat terjadi jika anak tetap menghisap empeng dan ibu jari lebih dari usia satu tahun. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan yang kuat antara anterior open bite dan penggunaan empeng. Durasi dan frekuensi penggunaan empeng memiliki peran penting.[4,12,13]

Penelitian yang dilakukan oleh Tibolla et al menunjukan bahwa anak yang menggunakan empeng lebih dari dua tahun lebih cenderung menderita anterior open bite dibandingkan dengan anak yang menggunakan empeng kurang dari dua tahun. Penelitian tersebut juga menunjukkan anterior open bite lebih banyak dialami anak yang menggunakan empeng pada pagi dan siang hari dibandingkan anak yang menggunakan hanya malam hari.[14]

Prevalensi anterior open bite lebih besar pada anak yang menggunakan empeng konvensional dibandingkan dengan empeng fungsional atau orthodontik.[6,8,15]

Posterior Crossbite

Efek penggunaan empeng pada anak berikutnya adalah berpotensi menyebabkan posterior crossbite. Kondisi ini terjadi ketika gigi geraham bawah tidak sejajar dengan gigi geraham atas. Prevalensi posterior crossbite pada anak yang menggunakan empeng berkisar antara 12,8- 88,9%.[1]

Berdasarkan sebuah penelitian, anak-anak yang menghentikan kebiasaan megisap empeng pada usia 2 tahun menunjukkan prevalensi posterior crossbite yang lebih rendah (17,2%) dibandingkan dengan anak yang melanjutkan kebiasaan tersebut hingga usia 4 sampai 6 tahun (27,3%). [16] Studi lain menunjukkan bahwa 25,5% anak yang menggunakan empeng lebih dari usia 36 bulan memiliki posterior crossbite dibandingkan dengan 15,5% anak yang berhenti sebelum usia 36 bulan. Namun, kedua penelitian tersebut memiliki risiko bias yang besar.[1,16]

Overjet Berlebih

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki kebiasaan menghisap empeng cenderung memiliki overjet berlebih. Overjet lebih dari 4 mm telah dilaporkan pada 28% anak yang memiliki kebiasaan menghisap empeng. [1,17] Prevalensi overjet berlebih dilaporkan lebih tinggi pada anak yang menggunakan empeng fungsional dibandingkan dengan empeng konvensional.[7]

Kelainan Hubungan Kaninus dan Molar

Distoklusi pada hubungan molar dan kaninus ditemukan pada pasien pengguna empeng.[1,7,9,17] Studi menunjukan distoklusi pada hubungan molar dan kaninus berbeda bermakna antara pasien yang menggunakan empeng dibandingkan dengan yang tidak menggunakannya.[7,9] Prevalensi distoklusi hubungan kaninus lebih tinggi pada anak yang menggunakan empeng fungsional dibandingkan dengan empeng konvensional.[7]

Kesimpulan

Kebiasaan menghisap empeng memiliki pengaruh terhadap struktur orofasial. Meskipun belum ada bukti yang memiliki keakuratan yang tinggi, terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan menghisap empeng dengan susunan gigi yang tidak rata, anterior open bite, posterior crossbite, overjet berlebih, dan distoklusi hubungan kaninus molar. Durasi dan frekuensi menghisap empeng memiliki hubungan yang kuat dalam menyebabkan perubahan struktur orofasial. Selain itu, bentuk atau jenis dari empeng juga memiliki pengaruh terhadap perubahan struktur orofasial. Meski demikian, studi dengan desain lebih baik dan risiko bias lebih minim masih diperlukan untuk mengetahui lebih pasti pengaruh empeng terhadap struktur orofasial.

Referensi