Perbandingan Biopsi dan Radiologi dalam Diagnosis Arteritis Temporal

Oleh :
dr. Ade Wijaya SpN

Biopsi merupakan baku emas diagnosis arteritis temporal, tetapi penegakan diagnosis dengan pemeriksaan radiologi lebih disukai karena lebih tidak invasif. Arteritis temporal atau Giant Cell Arteritis merupakan bentuk tersering dari vaskulitis sistemik primer. Kondisi ini merupakan kondisi darurat karena dapat menyebabkan kebutaan permanen pada 20% kasus bila tidak dilakukan penanganan. Oleh karena itu, diagnosis yang cepat dan tepat sangatlah krusial.

Biopsi arteri temporalis adalah gold standard atau pemeriksaan baku emas dalam mendiagnosis arteritis temporal. Meski demikian, prosedur ini memiliki keterbatasan karena memerlukan tindakan invasif. Saat ini, secara klinis pemeriksaan radiologis justru mengambil peran lebih dalam mendiagnosis arteritis temporal karena tidak invasif dan memiliki sensitivitas yang lebih baik.[1-2]

ArteritisTemporal

Peran USG dalam Mendiagnosis Arteritis Temporal

USG arteri temporalis merupakan modalitas radiologi lini pertama yang direkomendasikan oleh European League Against Rheumatism (EULAR) untuk digunakan pada pasien dengan kecurigaan arteritis temporal. Temuan utama pada USG pasien arteritis temporal adalah penebalan dinding pembuluh darah atau tanda halo, arteri yang tidak dapat dikompresi atau tanda kompresi, adanya stenosis pembuluh darah, dan oklusi pembuluh darah.[2]

USG disukai karena bersifat non-invasif dan reliabel. USG dapat digunakan untuk mengevaluasi arteri temporal dan arteri aksilaris, yang telah dilaporkan dapat meningkatkan diagnostic yield. USG dengan probe frekuensi tinggi dapat menghasilkan resolusi aksial dan lateral 0.1 mm (100 µm). USG juga dapat memberi informasi mengenai karakteristik aliran darah dan kondisi dinding arteri.[3-5]

Perbandingan Biopsi dan USG dalam Diagnosis Arteritis Temporal

Hingga 44% pasien dengan klinis arteritis temporal bisa menunjukkan hasil biopsi yang negatif, padahal pemerksaan ini bersifat lebih invasif dibandingkan USG. Hal ini menyebabkan banyak ahli menyarankan USG sebagai baku emas baru pemeriksaan arteritis temporal, menggantikan biopsi.[3]

Sebuah meta analisis tahun 2019 yang meliputi lebih dari 20 studi melaporkan bahwa temuan halo hipoekoik pada USG memiliki sensitivitas 68% dan spesifisitas 81% jika dibandingkan dengan biopsi sebagai baku emas. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh studi observasional deskriptif yang melibatkan 451 pasien arteritis temporal, yang mana USG ditemukan memiliki sensitivitas mencapai 91,6% dan spesifisitas hingga 95,8%.[6,7]

Dalam studi oleh Gielis, dkk pada tahun 2021 yang melibatkan 81 pasien, dilaporkan bahwa temuan USG berupa halo dan oklusi pada arteri temporalis memiliki sensitivitas 53% dan spesifisitas mencapai 100% dalam mendiagnosis arteritis temporal. Studi terbaru oleh Hansen MS, dkk tahun 2023 yang melibatkan 78 pasien melaporkan USG memiliki sensitivitas dan spesifitas 63% dan 79%, dibandingkan dengan biopsi yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas 69% dan 100%.[8,9]

Peran MRI dalam Mendiagnosis Arteritis Temporal

Pedoman EULAR terbaru merekomendasikan penggunaan MRI 3 Tesla resolusi tinggi sebagai modalitas alternatif untuk mendiagnosis arteritis temporal apabila USG tidak tersedia atau memberikan hasil yang inkonklusif. Gambaran MRI pada arteritis temporal memperlihatkan adanya penebalan dinding pembuluh darah. Penggunaan kontras akan menunjukkan penyangatan dinding pembuluh darah.[2,10]

Perbandingan Biopsi dan MRI dalam Diagnosis Arteritis Temporal

Dalam sebuah meta analisis (2018), 6 studi mengevaluasi kegunaan MRI dalam diagnosis arteritis temporal. Menurut studi yang membandingkan MRI dengan diagnosis klinis (n=509), sensitivitas MRI adalah 73% dan spesifisitas 88%. Jika dibandingkan dengan biopsi (n=403), MRI memiliki sensitivitas 93% dan spesifisitas 81%.[11]

Peran CT Scan dalam Mendiagnosis Arteritis Temporal

CT angiografi (CTA) merupakan opsi lain dalam mendiagnosis arteritis temporal. Temuan pada CTA meliputi penebalan dinding pembuluh darah disertai penyangatan kontras.

Dalam sebuah studi yang melibatkan 28 pasien (2017), CTA dilaporkan memiliki sensitivitas 95% dan spesifisitas 100% dibandingkan dengan PET scan sebagai referensi. Meski demikian, perlu dicatat bahwa studi ini tidak membandingkan CT scan dengan baku emas biopsi.[12]

CTA tidak direkomendasikan oleh EULAR untuk mendiagnosis arteritis temporal. Tetapi, CTA mungkin bisa bermanfaat untuk mengevaluasi pasien dengan penyakit yang lebih ekstensif, misalnya yang mengalami ekstensi hingga arteri-arteri besar.[1,2]

Peran PET Scan dalam Mendiagnosis Arteritis Temporal

EULAR 2018 merekomendasikan PET scan sebagai modalitas radiologi pilihan dalam mendiagnosis arteritis temporal. Pada praktik klinis saat ini, penggunaan PET scan untuk diagnosis arteritis temporal semakin meningkat, terutama pada kasus-kasus dengan klinis atipikal.[2,10]

Meta analisis (2016) yang meliputi 8 studi dengan subjek penelitian mencapai 400 orang melaporkan sensitivitas PET Scan sebesar 83,3% dan spesifisitas 89,6%. Studi lain (2019) melaporkan PET scan memiliki sensitivitas 92% dan spesifisitas 85% dibandingkan dengan biopsi sebagai referensi.[10,13,15]

Keterbatasan PET scan adalah biaya yang relatif lebih tinggi dibandingkan modalitas pencitraan lain. PET Scan juga memaparkan pasien pada radiasi yang tinggi, serta ada penurunan akurasi diagnosis pada pasien yang mendapatkan terapi glukokortikoid dosis tinggi.[10,15]

Kesimpulan

Arteritis temporal merupakan suatu kondisi yang memerlukan diagnosis yang cepat dan tepat karena dapat menyebabkan kecacatan berupa kebutaan permanen bila terlambat mendapat terapi. Biopsi merupakan baku emas diagnosis arteritis temporal, tetapi pemeriksaan ini bersifat invasif dan tidak tersedia luas. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa pemeriksaan radiologi memiliki sensitivitas yang lebih baik dalam mendiagnosis arteritis temporal dibandingkan biopsi.

Pendekatan diagnosis yang direkomendasikan adalah kecurigaan klinis arteritis temporal berdasarkan gejala, usia >50 tahun, dan laju endap darah atau CRP yang tinggi perlu dilanjutkan ke pemeriksaan USG arteri temporal dan aksila sebagai modalitas radiologi lini pertama. Jika USG negatif, maka MRI kranial adalah modalitas pencitraan berikutnya yang direkomendasikan. Peran CTA dan PET scan masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menetapkan kegunaannya.

Referensi