Teknik

Teknik pemeriksaan elektrokardiografi atau EKG harus diperhatikan untuk memastikan hasil pemeriksaan yang akurat. Prosedural pemasangan elektroda merupakan salah satu bagian teknik EKG yang penting agar artefak yang muncul hanya minimal, atau tidak sama sekali.

Persiapan PasienĀ 

Persiapan pasien untuk EKG mencakup informed consent pasien, cek identitas, serta persiapan pemasangan elektroda. Pemberian informed consent oleh pasien dilakukan jika pasien sadar, sedangkan jika pasien tidak sadar maka informed consent dilakukan oleh keluarga atau pengantar pasien. Pada kondisi gawat darurat, informed consent dapat dilakukan secara verbal. Setelah tindakan EKG, dapat diminta informed consent tertulis bila diperlukan. Cek identitas adalah memeriksa kesesuaian identitas pasien, terdiri dari nama, usia dan tanggal lahir. [2-4]

Persiapan Pemasangan Elektroda

Pemeriksaan EKG membutuhkan kontak langsung antara elektrode dengan kulit dada, pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Perlekatan yang tidak baik antara kulit dan elektroda dapat mengganggu hasil perekaman jantung. Untuk itu, diperlukan persiapan pasien sebagai berikut:

  • Membuka baju, bra pada pasien wanita, sepatu, kaos kaki, sarung tangan, jam, gelang, dan aksesoris lain yang terbuat dari logam
  • Memastikan bagian yang akan ditempelkan elektroda bersih, bila perlu diusap dengan kassa basah atau alkohol
  • Mencukur bulu dada pada pria dengan bulu dada yang lebat, yang dapat mengganggu perlekatan elektroda [2-4]

Pemeriksaan EKG akan mengekspos bagian atas tubuh pasien, sehingga harus dilakukan di tempat tertutup. Apabila semua elektroda sudah terpasang dengan baik di tubuh pasien dan sudah terhubung dengan kabel, sebisa mungkin pasien ditutupi dengan gaun. Bila pemeriksa dan pasien berbeda jenis kelamin, sebisa mungkin ditemani oleh keluarga pasien atau perawat.[2-4]

Peralatan

Alat rekam jantung atau EKG harus dipastikan selalu berfungsi dengan baik, sehingga perlu dikalibrasi secara berkala. Terdapat berbagai macam alat EKG, tetapi secara umum memiliki komponen sebagai berikut:

  • Mesin atau alat perekam, biasanya dilengkapi dengan layar untuk melihat pola aliran listrik sebelum direkam dan dicetak pada kertas
  • Enam elektroda prekordial dan empat elektroda ektremitas
  • Kabel penghubung elektroda dengan mesin
  • Gel untuk menempelkan elektroda pada kulit pasien
  • Kassa dan alkohol
  • Kertas EKG [2-4]

Pada pemasangan elektroda, perlu diperhatikan simbol yang tertulis pada kabel dan elektrodanya. Elektroda harus dipasangkan pada tempat yang tepat, dengan kabel yang benar. Pemasangan kabel dan elektroda yang salah dapat menyebabkan hasil EKG menjadi salah interpretasi.[2-4]

Posisi Pasien

Pasien tidur dengan posisi supine, atau jika pasien merasa tidak nyaman maka pemeriksaan dapat dilakukan dengan posisi fowler. Pasien yang diperiksa dengan posisi selain supine, harus dicatat dalam pelaporan EKG.[2-4]

Pemeriksa harus memastikan pasien tidak menyentuh logam, baik logam di tempat tidur atau logam lainnya. Ekstremitas pasien harus ditopang oleh tempat tidur agar mencegah kontraksi otot yang dapat menyebabkan artefak pada hasil EKG.[2-4]

Prosedural

Prosedur pemeriksaan EKG terdiri dari pemasangan elektroda di ekstremitas, elektroda prekordial, dan perekaman. [2-4]

Pemasangan Elektroda di Ekstremitas

Pemasangan elektroda pertama adalah elektrode di ekstremitas. Prinsip pemasangan adalah elektroda dipasangkan di distal dari bahu dan pinggang, sehingga tidak harus tepat pada pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Namun, pemasangan elektroda tepat pada pergelangan tangan dan kaki masih menjadi pilihan utama, karena ditemukan perbedaan durasi dan voltase EKG apabila elektroda dipasangkan di tempat lain. [5]

Tabel 1. Lokasi Pemasangan Elektroda Ekstremitas [5]

Jenis Elektroda Warna Elektroda Lokasi Pemasangan
Lengan kanan (right arm / RA) Merah proksimal pergelangan tangan kanan
Lengan kiri (left arm / LA) Kuning proksimal pergelangan tangan kiri
Kaki kiri (left leg / LL) Hijau proksimal pergelangan kaki kiri
Kaki kanan (right leg / RL) Hitam proksimal pergelangan kaki kanan

Sumber: dr. Immanuel Natanael Tarigan, 2018

Pemasangan Elektroda Prekordial

Pemasangan elektroda prekordial dilakukan dengan memperhatikan struktur anatomis sesuai tabel 2 di bawah. Pemasangan elektroda prekordial V4, V5 dan V6 pada pasien perempuan harus diletakkan di bawah payudara kiri, terutama jika jaringan payudara menutupi letak anatomis seharusnya. Berdasarkan studi, meletakkan elektroda di atas jaringan payudara dapat mengganggu tangkapan sinyal listrik pada pemeriksaan EKG, walaupun hal ini masih kontroversi.[6]

Tabel 2. Lokasi Pemasangan Elektroda Prekordial [5]

Jenis Elektroda Warna Elektroda Lokasi Pemasangan
V1 Merah Sela iga ke-4 pada ujung sternum kanan
V2 Kuning Sela iga ke-4 pada ujung sternum kiri
V3 Hijau Di antara V2 dan V4
V4 Coklat Sela iga ke-5 pada linea midklavikula kiri
V5 Hitam Sejajar dengan V4 pada linea aksila anterior kiri
V6 Ungu Sejajar dengan V4 dan V5 pada linea midaksila kiri

Sumber: dr. Immanuel Natanael Tarigan, 2018

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pemasangan elektroda prekordial adalah:

  • Penempatan elektroda prekordial sering kali mengalami kesalahan terutama penempatan V1 dan V2 yang terlalu tinggi
  • Penghitungan sela iga dimulai dari bawah tulang iga pertama, bukan di atasnya (antara tulang iga pertama dengan klavikula)
  • Penghitungan sela iga, agar lebih mudah, dapat dilakukan dengan menemukan dahulu angulus ludovici, yaitu tonjolan pada pertemuan korpus dan manubrium sternum yang umumnya sejajar dengan tulang iga kedua
  • Kemudian, setelah menemukan iga kedua maka sela iga yang terdapat tepat di bawahnya adalah sela iga kedua sehingga untuk menemukan sela iga keempat adalah dengan menelusuri sela iga ke bawah
  • Elektroda V1 diletakkan di sela iga keempat kanan tepat di sebelah kanan tulang sternum, sedangkan elektroda V2 diletakkan di sebelah kiri tulang sternum
  • Elektroda V4 diletakkan di sela iga kelima kiri di linea midklavikula kiri, dimana pada laki-laki biasanya linea midklavikula sejajar dengan areola mammae
  • Setelah V4 diletakkan, elektroda V3 diletakkan antara V2 dan V4
  • Elektroda V5 dan V6 diletakkan sejajar dengan letak V4, dengan elektroda V5 di linea aksila anterior kiri dan V6 di linea midaksila kiri
  • Pada beberapa kondisi, seperti pasien yang dicurigai mengalami infark miokard posterior, maka dilakukan EKG posterior yang dijelaskan di bagian kondisi khusus pada pemeriksaan EKG [5,7]

Perekaman

Pastikan pengaturan alat saat perekaman ada pada mode auto yang berjalan dengan kecepatan 25 mm/detik dan 10 mm/mV. Bila kompleks QRS pada EKG terlihat terlalu tinggi, maka dilakukan pengaturan voltase ulang.[2-4]

Pada saat perekaman, pasien harus dalam keadaan tenang dan tidak bergerak. Pasien-pasien tertentu tidak dapat tenang, misalnya penderita Parkinson yang mengalami tremor, maka pasien ini harus dikondisikan setenang mungkin. Pada hasil pemeriksaan harus dituliskan bahwa saat diperiksa pasien tremor atau kondisi lain yang menyebabkan pasien bergerak. Hal-hal lain yang harus dicatat di hasil perekaman EKG termasuk identitas pasien, waktu pemeriksaan, kondisi pemeriksaan yang di luar standar (misalnya pasien dalam keadaan duduk), keluhan pasien selama pemeriksaan (misalnya nyeri dada).[2-4]

Bila ditemukan pada hasil perekaman kondisi irama irregular, maka tambahkan perekaman lead II minimal selama 10 detik. Tujuan penambahan ini adalah untuk dapat menghitung frekuensi denyut jantung. [2-4]

Follow up

Setelah EKG selesai dilakukan, hasil rekaman jantung harus diperiksa ulang oleh operator atau klinisi untuk menentukan apakah pemeriksaan perlu diulang. EKG diulang bila artefak terlalu banyak dan mengganggu, atau hasil yang sulit diinterpretasikan. Sebelum dilakukan EKG ulang, perlu diperhatikan apakah semua elektroda masih melekat dengan benar di tempatnya, dan apakah semua kabel terpasang pada elektroda yang sesuai.[2-4,8]

Pemeriksaan EKG adalah pemeriksaan noninvasif yang dapat diulang kapanpun bila dibutuhkan. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan EKG harus dilakukan berulang atau serial, misalnya untuk memantau progresivitas sindrom koroner akut, atau untuk memantau efektivitas terapi pasien aritmia. [8]