Penggunaan Antibiotik pada Prosedur Bedah Plastik Area Wajah

Oleh :
dr. Johannes Albert B. SpBP-RE

Antibiotik merupakan obat yang umum digunakan dalam perawatan perioperatif maupun pasca tindakan operatif, termasuk operasi bedah plastik baik yang bersifat rekonstruksi maupun estetik.

Penggunaan antibiotik yang dilakukan dengan tepat dapat menurunkan risiko infeksi pasca pembedahan. Sebaliknya, penggunaan antibiotik secara irasional dapat menimbulkan efek negatif yang tidak diharapkan.

Dalam praktik sehari-hari, protokol penggunaan antibiotik khususnya terkait prosedur bedah plastik di area wajah, seringkali bergantung pada preferensi dan pengalaman klinis masing-masing dokter. Oleh karena itu, sangat penting bagi dokter untuk meningkatkan pengetahuan mengenai penggunaan antibiotik pada prosedur bedah dan menerapkan praktik berbasis bukti ilmiah untuk meningkatkan kualitas layanan medis bagi pasien.[1-3]

penggunaan antibiotik pada trauma wajah

Penggunaan antibiotik pada operasi bedah plastik di area wajah

Angka kejadian infeksi pada operasi bedah plastik di area wajah secara umum cukup rendah, yaitu sekitar 2,6% karena area wajah memiliki vaskularisasi yang baik. Oleh karena itu, protokol penggunaan antibiotik pada operasi area wajah di bidang bedah plastik sangat bervariasi karena sebagian ahli berpendapat pemberian antibiotik tidak terlalu esensial mengingat rendahnya angka kejadian infeksi.[1,2]

Variasi ini bergantung pada beberapa aspek seperti area spesifik pada wajah yang terlibat, jenis tindakan operasi yang dilakukan, serta risiko morbiditas bagi pasien seandainya terjadi infeksi luka operasi. Beberapa area wajah yang memiliki hubungan dengan saluran pencernaan atau pernapasan memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi.

Penelitian yang dilakukan oleh Bartella et al. menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik pascaoperasi (hingga 5 hari pascaoperasi) tidak memberikan manfaat tambahan untuk mencegah angka kejadian infeksi dibandingkan penggunaan antibiotik perioperasi saja pada pasien-pasien yang menjalani operasi bedah plastik di area wajah.[1,2]

Jenis tindakan operasi yang dilakukan juga akan mempengaruhi pemberian antibiotik pada pasien. Secara garis besar, tindakan operasi bedah plastik dibagi menjadi tindakan rekonstruksi dan estetik. Tindakan estetik yang umum dilakukan pada area wajah adalah blepharoplastyrhinoplastyface lift, dan facial resurfacing. Tindakan rekonstruksi yang melibatkan area wajah misalnya operasi rekonstruksi sumbing, trauma wajah, luka bakar, dan kelainan bawaan di area kepala dan wajah. Risiko infeksi pada kasus trauma dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti mekanisme trauma, adanya kontaminasi, keterlibatan fraktur tulang wajah, dan lamanya delay antara waktu kejadian dengan penatalaksanaan luka.[2-4]

Blepharoplasty

Tindakan operasi pada kelopak mata termasuk sebagai operasi bersih. Area ini juga kaya akan vaskularisasi sehingga risiko infeksi pasca tindakan sangat rendah (kurang dari 1%). Pemberian antibiotik topikal pada luka operasi efektif untuk mencegah terjadinya infeksi, sehingga antibiotik sistemik tidak diperlukan kecuali pada pasien yang memiliki komorbid tertentu.

Penelitian yang dilakukan oleh Matiasek et al.  menyatakan bahwa tindakan asepsis dan antisepsis kulit yang adekuat sebelum tindakan blepharoplasty sangat efektif untuk mencegah terjadinya infeksi (0% dari 392 pasien) sehingga pasien tidak perlu mendapatkan terapi antibiotik sama sekali.[2,4-6]

Rhinoplasty Atau Septoplasty

Operasi pada area hidung yang melibatkan rongga dan mukosa hidung dianggap memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi karena adanya bakteri-bakteri di saluran napas yang berpotensi menyebabkan infeksi. Insiden terjadinya infeksi pasca prosedur ini bervariasi antara 0 – 18% dengan angka rata-rata sekitar 2%.

Berdasarkan hasil penelitian yang ada hingga saat ini belum ada kesimpulan yang kuat mengenai perlu/tidaknya menggunakan terapi antibiotik pada prosedur rhinoplasty. Salah satu hal lain yang harus dipertimbangkan adalah risiko morbiditas bila terjadi infeksi pada area hidung, terutama pasien yang menggunakan implant hidung. Oleh karena itu, sebagian besar praktisi memilih menggunakan antibiotik profilaksis perioperatif pada prosedur rhinoplasty atau septoplasty.[2,4,6]

Facial Rejuvenation (Facelift)

Literatur mengenai penggunaan antibiotik pada prosedur facelift pada saat ini jumlahnya terbatas. Secara umum risiko infeksi pada tindakan ini kecil karena banyaknya vaskularisasi di area wajah. Namun, karena dampak infeksi akan menyebabkan morbiditas yang sangat signifikan terhadap pasien (parut hipertrofik pada luka operasi, nekrosis sebagian kulit wajah, dehisensi luka operasi) maka sebagian besar praktisi menggunakan antibiotik perioperatif pada prosedur ini.[2,4]

Prosedur facial resurfacing seperti ablasi laser dan dermabrasi pada wajah biasanya memiliki risiko infeksi yang rendah. Prosedur ini tidak memerlukan pemberian antibiotik kecuali pada populasi pasien tertentu yang berisiko tinggi seperti pasien dengan diabetes,  imunodefisiensi, mengonsumsi obat-obatan imunosupresan. Fokus utama pencegahan infeksi pada prosedur ini adalah prosedur asepsis dan antisepsis kulit wajah yang baik sebelum tindakan dilakukan.[2,4]

Rekonstruksi Trauma Wajah

Pada pasien yang mengalami laserasi pada kulit wajah, antibiotik profilaksis sama sekali tidak diperlukan kecuali pada kasus di mana terdapat keterlibatan mukosa (saluran respiratori/digestif), kontaminasi berat pada luka, dan delayed cases. Pada kasus luka gigitan, antibiotik profilaksis perioperatif sebaiknya diberikan pada kasus gigitan manusia karena telah terbukti menurunkan angka kejadian infeksi. Pada kasus gigitan binatang antibiotik profilaksis dapat diberikan bila melibatkan area yang penting secara fungsi atau estetik. Antibiotik profilaksis yang digunakan sebaiknya bersifat broad spectrum.[3,4]

Pada kasus trauma yang disertai fraktur tulang wajah, pemberian antibiotik profilaksis yang dianjurkan adalah antibiotik praoperasi atau perioperatif. Antibiotik dapat diberikan pada kasus fraktur mandibula (terutama fraktur kominutif atau pada area mandibula yan bergigi), fraktur yang melibatkan ketiga bagian wajah (sepertiga atas, tengah, dan bawah wajah).

Beberapa studi melaporkan bahwa penggunaan antibiotik pasca-operasi tidak bermanfaat untuk mencegah terjadinya infeksi. Meskipun demikian, survei menunjukkan bahwa sebagian besar praktisi masih menggunakan antibiotik pasca-operasi pada kasus fraktur wajah dengan alasan tidak mengetahui adanya hasil penelitian tersebut atau menganggap bahwa penelitian yang ada saat ini kualitasnya belum terlalu baik.[2-4]

Kesimpulan

Penggunaan antibiotik profilaksis pada prosedur bedah plastik di area wajah sangat bervariasi. Variasi ini tergantung pada area yang terlibat serta jenis prosedur yang dilakukan.

Penggunaan antibiotik profilaksis sebaiknya didasarkan pada bukti ilmiah yang ada untuk mendapatkan efisiensi terapi yang baik serta mencegah penggunaan antibiotik secara irasional.

Aplikasi bukti ilmiah yang ada di literatur dengan praktik sehari-hari di Indonesia harus dilakukan dengan berhati-hati karena terdapat perbedaan faktor demografis, pola bakteri, resistensi bakteri, tingkat pendidikan, tingkat kebersihan personal pasien, serta faktor sosial budaya lainnya. Selain itu, banyak bukti ilmiah saat ini yang dianggap kurang baik kualitasnya Oleh karena itu penelitian lebih lanjut di masa depan, khususnya pada populasi masyarakat Indonesia sangat penting untuk dilakukan.

Referensi