Diagnosis dan Penanganan Cedera Mata Terkait Pekerjaan Mengelas di Layanan Kesehatan Primer

Oleh :
dr. Utami Noor Syabaniyah SpM

Pekerjaan mengelas (welding) telah dikaitkan dengan peningkatan risiko cedera pada mata. Pengelasan adalah proses industri yang banyak digunakan untuk penyambungan permanen bagian logam. Efek merugikan dari pengelasan berasal dari paparan yang lama terhadap sinar cahaya tampak, radiasi inframerah, dan ultraviolet. Selain itu, tukang las juga berisiko mengalami cedera mata, seperti abrasi kornea, iritis traumatik, dan benda asing kornea, akibat serpihan logam yang beterbangan saat mengelas.[1,2]

Risiko Okular dari Pekerjaan Mengelas

Terdapat studi yang melaporkan bahwa pekerjaan mengelas berkaitan dengan hingga 55% kasus trauma pada mata. Trauma mata ini banyak ditemukan pada pekerja yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) atau menggunakan APD secara tidak tepat. Risiko pada mata ini tidak hanya dialami oleh mereka yang melakukan pekerjaan mengelas, tapi juga asisten tukang las, pekerja lain yang tempat kerjanya berada berdekatan dengan lokasi las, ataupun orang yang secara tidak sengaja berada di lokasi.

CederaMataMengelas

Efek Akut

Selama proses pengelasan, pekerja dapat mengalami cedera mata akut seperti benda asing kornea, midriasis traumatik, iritis traumatik, dan abrasi kornea, Ini umumnya berkaitan dengan ledakan dari gas welding dan logam yang berhamburan dari proses hammering dan grinding. Pada kondisi yang lebih berat, laserasi kornea dan cedera tembus dapat terjadi.

Efek Kronis

Selain dari konsekuensi akut, pekerja las secara terus menerus terpapar panas dan radiasi sinar ultraviolet (UV) dari arc welding. Paparan radiasi UV dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan kondisi seperti pterygium, pinguekula, keratopati, dan makulopati. Konsekuensi lain dari emisi terkait pengelasan meliputi fotokeratitis (corneal flash burn), keratokonjungtivitis, keratopati aktinik kronis, fotoftalmia, dan kekeruhan kornea.[1-3,6]

Evaluasi Pasien dengan Cedera Mata Terkait Pekerjaan Mengelas di Layanan Kesehatan Primer

Saat pasien datang ke tempat praktik atau ke unit gawat darurat (UGD), tanyakan mekanisme cedera terjadi dan apa keluhan yang dirasakan pasien. Tanyakan juga apakah pasien menggunakan APD dan tindakan apa yang sudah dilakukan untuk meredakan gejala. Setelah memastikan kondisi pasien sadar dan tanda vital stabil, maka dapat dilakukan pemeriksaan mata. Namun, bila terdapat tanda-tanda instabilitas hemodinamik, pemeriksaan mata dapat ditunda, lakukan resusitasi pasien terlebih dahulu.[4,5,7,8]

Pemeriksaan Mata

Pada pasien yang mengalami rasa nyeri pada mata atau mata berair setiap pasien membuka mata, berikan 1-2 tetes mata yang berisi anestesi topikal seperti tetracaine. Ini dilakukan untuk menghilangkan nyeri sementara sehingga pasien dapat diperiksa dengan nyaman. Selanjutnya, lakukan pemeriksaan visus dengan kacamata jika pasien mengenakan kacamata untuk memastikan bahwa cedera tidak mempengaruhi tajam penglihatan.

Gunakan senter untuk memeriksa permukaan konjungtiva dan kornea apakah ada luka atau benda asing. Kornea yang baik akan memiliki permukaan yang halus, sedangkan bila terdapat luka pada kornea akan terlihat permukaan yang kasar dan tidak rata. Pemeriksaan fluoresensi diperlukan untuk menilai ada tidaknya erosi. Teteskan cairan fluoresensi atau gunakan stik fluoresensi kering pada kelopak mata bawah, kemudian periksa di bawah sinar biru atau kamar gelap. Jika terdapat erosi pada kornea, akan terlihat pewarnaan hijau yang membentuk pola sesuai dengan defek pada kornea.

Lakukan irigasi mata segera bila dari anamnesis dicurigai adanya keterlibatan cairan kimia, misalnya dari cat saat proses mengelas, yang disertai abnormalitas kornea dan perubahan visus. Periksa pula forniks atas dan bawah. Minta pasien untuk melihat ke atas sambil menarik kelopak mata bawah untuk menilai forniks bagian bawah. Periksa apakah ada benda asing atau laserasi di daerah forniks. Minta pasien melihat ke bawah dan gunakan kapas pentol untuk membalik dan memeriksa kelopak atas.[4,5,7-9]

Manajemen Layanan Kesehatan Primer pada Cedera Mata Terkait Pekerjaan Mengelas

Manajemen pasien yang mengalami cedera mata terkait pekerjaan mengelas akan bergantung pada jenis cedera yang dialami. Apabila terdapat benda asing, maka diperlukan tindakan ekstraksi. Abrasi kornea diobati dengan antibiotik topikal. Sementara itu, pada kasus cedera tembus, pasien harus dirujuk ke dokter spesialis mata.[4,5,7-9]

Benda Asing Kornea

Benda asing kornea merupakan trauma mata yang sering terjadi pada pekerja las. Idealnya, ekstraksi benda asing kornea dilakukan dalam 24 jam. Dokter umum dapat melakukan ekstraksi benda asing kornea dan konjungtiva yang letaknya superfisial dengan menggunakan cotton bud steril yang sudah dibasahi dengan larutan salin. Setelah selesai dilakukan ekstraksi, berikan tetes mata antibiotik untuk profilaksis infeksi, lubrikan berupa artificial tears, serta  analgesik bila perlu.

Apabila benda asing menancap cukup dalam pada kornea dan sulit untuk dilepaskan, maka pasien harus dirujuk ke dokter mata untuk dilakukan ekstraksi menggunakan jarum dan slit lamp. Selain itu, rujukan juga perlu dilakukan bila terdapat benda asing yang berkarat menempel pada kornea dan lokasi benda asing di bagian sentral kornea.[4,7,8,10]

Fotokeratitis/ Corneal Flash Burn

Fotokeratitis merupakan trauma mata yang sering terjadi pada pekerja las akibat paparan sinar ultraviolet berlebihan. Penglihatan buram, nyeri, mata berair, dan terdapat sensasi seperti ada benda asing pada mata merupakan gejala fotokeratitis. Gejala ini mirip dengan erosi kornea. Salah satu perbedaannya adalah pada fotokeratitis biasanya melibatkan kedua mata. Selain itu pemeriksaan fluoresensi menunjukkan adanya pewarnaan titik-titik kecil multipel di seluruh permukaan kornea pada kedua mata.

Tata laksana fotokeratitis meliputi pemberian tetes mata midriatikum untuk mengistirahatkan mata. Gunakan tetes mata midriatikum kerja pendek, seperti tropicamide dan siklopentolat. Terapi lain yang dapat diberikan adalah kompres dingin yang dilakukan dengan kelopak mata tertutup dan pemberian artificial tears untuk membantu mengurangi gejala. Selain itu, analgesik oral dapat dipertimbangkan bila pasien merasa kesakitan. Lakukan follow up pasien dalam 1-2 hari. Rujukan ke dokter spesialis mata dilakukan apabila terdapat penurunan tajam penglihatan dan rasa nyeri yang tidak menghilang setelah 2 hari.[4,6,9]

Erosi Kornea

Rasa nyeri atau perih pada mata disertai mata berair, sulit membuka mata, penglihatan buram, dan mata terasa mengganjal mengindikasikan adanya erosi kornea. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan fluoresensi yang menunjukkan adanya defek pada kornea.

Terapi dilakukan dengan antibiotik topikal. Sediaan salep lebih dipilih pada kasus erosi karena sediaan salep bertahan lebih lama pada permukaan mata dan memberikan efek menenangkan dibandingkan sediaan tetes mata. Antibiotik yang dapat diberikan adalah erythromycin, bacitracin, polymyxin B, ataupun chloramphenicol salep mata. Antibiotik diberikan 2-4 kali sehari. Hindari penggunaan gentamicin salep mata karena memiliki efek toksik terhadap epitel kornea.

Bila pada follow up 1 hari terdapat perbaikan gejala dan luas erosi mengecil, evaluasi kembali pada hari ke-2 atau ke-3. Rujuk pasien ke dokter spesialis mata bila erosi kornea tidak menyembuh pada hari ke-3, tidak ada perbaikan erosi kornea sejak hari ke-1, gejala tidak berkurang pada setiap follow up, atau timbul keputihan atau keabuan di tepi erosi yang mungkin menandakan adanya infeksi kornea.[7,8,11]

Laserasi dan Cedera Tembus

Walaupun lebih jarang terjadi, laserasi kornea dan cedera tembus (penetrating injury) dapat dialami akibat pekerjaan mengelas apabila terdapat pecahan logam atau partikel yang terpental dalam kecepatan tinggi saat proses hammering dan grinding. Pasien akan merasa kesakitan pada matanya dan pada pemeriksaan terdapat penurunan tajam penglihatan, dapat terjadi laserasi kornea, perubahan bentuk pupil, iris yang terjepit pada kornea, adanya hifema, katarak, ataupun perdarahan vitreus.

Bila pasien mengalami laserasi atau cedera tembus, pasang eye shield (sebaiknya menggunakan bahan yang keras) pada mata yang terkena untuk mencegah adanya penekanan pada mata. Berikan injeksi tetanus toxoid dan segera rujuk pasien ke dokter spesialis mata untuk dilakukan tata laksana lebih lanjut.[4,7,8,12]

Kesimpulan

Cedera mata akibat pekerjaan mengelas dapat disebabkan adanya benda asing kornea, fotokeratitis, erosi kornea, ataupun cedera tembus (penetrating injury). Pada fasilitas layanan kesehatan primer, dokter umum dapat melakukan evaluasi dan penanganan awal pada kasus benda asing kornea superfisial, erosi kornea, dan fotokeratitis. Meski demikian, apabila pasien tidak menunjukkan respon klinis adekuat, rujukan ke dokter spesialis mata harus dilakukan. Rujukan juga harus segera dilakukan pada kasus benda asing kornea yang terletak di sentral dan akibat benda berkarat, erosi kornea yang tidak menyembuh pada pemantauan, serta kasus laserasi kornea dan penetrating injury.

Referensi