Hindari Pemberian Antibiotik Berikut pada Pasien Hamil

Oleh :
dr.Bedry Qintha

Ibu hamil sering mengalami kondisi infeksi yang memerlukan terapi antibiotik, misalnya infeksi saluran kemih. Meski demikian, pemberian antibiotik pada pasien hamil memerlukan kehati-hatian dikarenakan potensi risiko pada ibu dan janin. Beberapa antibiotik yang memerlukan kewaspadaan penggunaan selama kehamilan adalah golongan makrolida seperti erythromycin; golongan tetrasiklin seperti doxycycline; golongan sulfonamida seperti cotrimoxazole; golongan kuinolon seperti ciprofloxacin; serta metronidazole.[1]

Golongan Makrolida : Erythromycin, Azithromycin, Clarithromycin

Erythromycin dan antibiotik makrolida lain, seperti azithromycin dan clarithromycin, sering dikaitkan dengan malformasi kongenital. Menurut FDA, penggunaan erythromycin dan azithromycin selama kehamilan masuk dalam Kategori B, sedangkan clarithromycin masuk Kategori C. Sementara itu, menurut TGA erythromycin masuk dalam Kategori A, azithromycin dalam Kategori B1, dan clarithromycin masuk dalam Kategori B3.[2,3]

Hindari Pemberian Antibiotik Berikut pada Pasien Hamil-min

Pada tahun 2019, Fan et al mempublikasikan sebuah tinjauan sistematik yang menunjukkan bahwa antibiotik golongan makrolida berkaitan dengan peningkatan risiko abortus, sumbing, epilepsi, dan cerebral palsy. Tinjauan ini mengevaluasi bukti dari 21 studi dengan total 228.556 partisipan, serta mencakup obat golongan makrolida erythromycin, azithromycin, dan clarithromycin.[4]

Perlu diketahui bahwa bukti lain terkait keamanan makrolida selama kehamilan masih saling bertentangan, dengan sebagian menunjukkan risiko malformasi dan sebagian lagi tidak. Oleh sebab itu, meskipun beberapa jenis makrolida masuk dalam Kategori B, dokter tetap perlu mewaspadai kemungkinan risiko ibu dan janin selama penggunaan golongan antibiotik ini.[5-7]

Golongan Tetrasiklin: Doxycycline, Tetrasiklin, Minocycline

Penggunaan antibiotik golongan tetrasiklin, seperti doxycycline dan minocycline, selama kehamilan telah dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan tulang dan perubahan warna pada gigi anak. FDA dan TGA telah memasukkan semua obat golongan tetrasiklin dalam Kategori D.[2,8]

Sebuah percobaan pada tikus menunjukkan bahwa paparan terhadap doxycycline dosis rendah mengganggu pertumbuhan janin dan bayi yang dilahirkan secara signifikan. Paparan doxycycline juga telah dikaitkan dengan malformasi kardiovaskular. Selain itu, sebuah studi kasus kontrol yang melibatkan data dari Quebec Pregnancy Cohort menunjukkan bahwa antibiotik golongan tetrasiklin berkaitan dengan peningkatan risiko keguguran.[9,10,20]

Golongan Sulfonamida: Cotrimoxazole

Cotrimoxazole merupakan antibiotik yang banyak digunakan pada ibu hamil dengan HIV untuk mencegah infeksi oportunistik. Meski demikian, FDA memasukkan antibiotik ini dalam Kategori D.[11]

Dalam sebuah tinjauan sistematik dan meta analisis yang melibatkan 4196 wanita yang mengonsumsi cotrimoxazole selama kehamilan, dilaporkan terdapat 232 infant yang mengalami anomali kongenital (pooled prevalence 3,5%), termasuk di dalamnya neural tube defect. Penggunaan cotrimoxazole juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko abortus spontan.[11,12]

Golongan Kuinolon: Ciprofloxacin, Levofloxacin

Penggunaan antibiotik golongan kuinolon, seperti ciprofloxacin dan levofloxacin, selama kehamilan telah dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan tulang pada studi hewan. Selain itu, kuinolon juga mempengaruhi sintesis DNA, sehingga secara teoritis dianggap dapat menyebabkan agenesis organ, mutagenesis, dan karsinogenesis. FDA sendiri telah memasukkan beberapa obat golongan kuinolon dalam Kategori C. Ini termasuk ciprofloxacin, levofloxacin, dan moxifloxacin.[13]

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa antibiotik golongan kuinolon tidak berkaitan dengan luaran kehamilan yang buruk. Meski demikian, studi kasus kontrol yang melibatkan data dari Quebec Pregnancy Cohort menunjukkan bahwa obat golongan kuinolon berkaitan dengan peningkatan risiko keguguran hingga 2 kali lipat.[10,14,15]

Metronidazole

Metronidazole biasanya menjadi terapi pilihan pada pasien hamil yang mengalami infeksi bakterial vaginosis. Antibiotik ini masuk dalam Kategori B oleh FDA, serta Kategori B2 oleh TGA.[2,16]

Beberapa studi melaporkan bahwa metronidazole tidak berkaitan dengan kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan janin, ataupun malformasi kongenital mayor. Meski demikian, terdapat bukti ilmiah lain yang mengaitkan penggunaan metronidazole selama kehamilan dengan peningkatan risiko abortus spontan dan hidrosefalus.[10,16-18]

Golongan Aminoglikosida: Streptomycin, Kanamycin

Penggunaan aminoglikosida, seperti streptomycin dan kanamycin, telah dikaitkan dengan efek buruk pada fungsi pendengaran janin. Beberapa antibiotik golongan aminoglikosida yang digunakan secara sistemik telah dimasukkan dalam Kategori D oleh FDA, ini termasuk streptomycin dan kanamycin.

Dalam sebuah tinjauan sistematik, konsumsi streptomycin selama kehamilan dikaitkan dengan defisit pendengaran dan vestibular.[19,20]

Prinsip Peresepan Antibiotik yang Aman Selama Kehamilan

Beberapa antibiotik diketahui bersifat teratogenik dan harus dihindari sepenuhnya selama kehamilan. Prinsip peresepan obat berikut dapat dipertimbangkan untuk memastikan keamanan penggunaan antibiotik selama kehamilan:

  • Resepkan obat hanya jika infeksi bakteri telah dikonfirmasi atau sangat dicurigai
  • Gunakan dosis efektif terendah
  • Pilih obat teraman yang tersedia untuk mengobati kondisi medis yang dialami pasien
  • Hindari konsumsi obat bila memungkinkan, terutama pada trimester pertama karena organogenesis pada trimester ini membawa risiko teratogenesis tertinggi
  • Bila memungkinkan, sebaiknya gunakan obat tunggal dan hindari polifarmasi
  • Hindari penggunaan obat over the counter (OTC) dan pengobatan sendiri (self medication)[19]

Kesimpulan

Keamanan penggunaan berbagai antibiotik selama kehamilan sulit dipastikan karena adanya keterbatasan etikolegal dalam melakukan uji klinis acak terkontrol pada ibu hamil. Oleh sebab itu, dalam setiap penggunaan antibiotik pada ibu hamil, dokter harus mempertimbangkan matang-matang mengenai rasio manfaat dan risiko untuk ibu dan janin.

Referensi