Pengaruh Rokok terhadap Penyembuhan Fraktur Tulang

Oleh :
dr. Ferdinand Sukher

Kebiasaan merokok dilaporkan dapat mengganggu proses penyembuhan fraktur tulang. Hal ini diduga terjadi karena nikotin menyebabkan vasokonstriksi yang mengganggu sirkulasi perifer dan karbon monoksida akan mengurangi kapasitas hemoglobin untuk mengikat oksigen.[1-3]

Pada kasus fraktur atau patah tulang, union atau tersambungnya kembali tulang adalah proses alami tubuh. Namun, ada berbagai kelainan yang dapat terjadi dalam tahap penyambungan tulang. Kelainan yang mungkin terjadi adalah malunion, delayed union, dan nonunion.[4,5]

Pengaruh Rokok terhadap Penyembuhan Fraktur Tulang

Malunion adalah tersambungnya tulang pada posisi yang tidak sesuai. Kondisi ini dapat terjadi karena reposisi tidak dilakukan sebelum penyembuhan tulang. Delayed union adalah penyambungan tulang yang terjadi lebih lambat daripada seharusnya (4–6 bulan). Sementara itu, tulang yang tidak menyambung dalam 9–12 bulan dianggap sebagai nonunion.[4,5]

Proses Penyembuhan Fraktur Tulang Secara Fisiologis

Secara fisiologis, tulang yang patah dapat mengalami pemulihan dalam waktu beberapa bulan. Hal ini dimulai dengan terbentuknya hematoma pada beberapa hari pertama dan pelepasan faktor-faktor proinflamasi seperti interleukin, tumor necrosis factor (TNF) alfa, bone morphogenetic protein (BMP), dan vascular endothelial growth factor (VEGF).[3,6]

Proses pemulihan tulang dilanjutkan dengan terbentuknya soft callus melalui aktivitas fibroblas dan kondroblas. Peningkatan vaskularisasi pada daerah trauma membawa banyak sel punca yang berfungsi untuk membentuk woven bone.[3,6]

Hard callus terbentuk dengan adanya osifikasi endokondral pada soft callus. Osteoblas dan osteoklas bekerjasama untuk mendeposit kalsium (kalsifikasi) pada jaringan tulang baru. Pembentukan tulang lamelar menggantikan woven bone akan menghasilkan tulang yang lebih padat. Tulang akan mengalami remodeling sesuai dengan bentuknya dengan aktivitas osteoblas dan osteoklas.[2,3]

Gangguan Proses Penyembuhan Fraktur Tulang Akibat Rokok

Hipotesis yang saat ini dipercaya oleh berbagai ahli mengenai dampak merugikan rokok terhadap penyembuhan tulang adalah gangguan vaskularisasi. Rokok mengandung nikotin dan karbon monoksida. Nikotin memiliki efek vasokonstriksi pada pembuluh darah, sedangkan karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dan mengurangi kemampuannya untuk mengikat oksigen.[7-10]

Hal-hal tersebut menyebabkan suplai darah dan nutrisi ke jaringan tulang berkurang. Akibatnya, aktivitas berbagai sel yang berfungsi dalam pemulihan fraktur menjadi tidak optimal.[7-10]

Selain itu, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa kebiasaan merokok berkaitan dengan rendahnya aktivitas sitokin regenerasi. Hal ini didukung oleh beberapa studi yang menunjukkan gangguan angiogenesis, kondrogenesis, dan osteogenesis pada perokok. Penyebab pasti dari kejadian ini masih diteliti.[7-10]

Kebiasaan merokok juga dikaitkan dengan masalah densitas tulang. Kemampuan tubuh untuk mengabsorbsi kalsium bisa terganggu akibat rokok. Selain itu, rokok dapat mengganggu fisiologi reparasi tulang dan meningkatkan resorpsi tulang. Akibatnya, proses perbaikan tulang mengalami imbalance dan tulang lebih rentan mengalami osteoporosis.[10-12]

Bukti Klinis tentang Pengaruh Rokok terhadap Penyembuhan Fraktur Tulang

Suatu tinjauan sistematik terhadap 122 studi (total 417.767 pasien) dan meta analisis terhadap 71 studi (total 39.920 pasien) menunjukkan bahwa angka kejadian nonunion jauh lebih tinggi pada grup perokok daripada grup yang tidak merokok (odds ratio atau OR 2,50; 95% CI 1,73–3,61).[1]

Perokok dalam studi tersebut didefinisikan sebagai pengguna rokok aktif dan mantan perokok yang sudah pernah merokok >100 batang dan sudah berhenti. Pada grup yang sudah berhenti merokok selama ≥4 minggu sebelum operasi, angka infeksi setelah operasi dilaporkan lebih rendah.[1]

Suatu studi kohort retrospektif terhadap 110 pasien (55 perokok dan 55 bukan perokok) juga menunjukkan bahwa rata-rata waktu penyembuhan fraktur tulang lebih lama pada perokok daripada bukan perokok, yaitu >48 minggu berbanding 24 minggu.[13]

Suatu tinjauan sistematik yang lain terhadap 11 studi dengan total 218.567 pasien juga menunjukkan bahwa gangguan penyembuhan tulang setelah operasi jauh lebih rendah pada grup yang bukan perokok daripada grup perokok (OR 0,59; 95% CI 0,43–0,82; P < 0,001). Grup yang bukan perokok juga memiliki angka infeksi pada luka operasi yang lebih rendah daripada grup perokok (OR 0,74; 95% CI 0,63–0,87; P < 0,001).[14]

Kesimpulan

Kebiasaan merokok dilaporkan dapat mengganggu proses penyembuhan fraktur tulang. Hal ini diperkirakan terjadi karena nikotin dalam rokok dapat menyebabkan konstriksi pembuluh darah, yang mengganggu suplai darah dan nutrisi ke jaringan tulang. Selain itu, karbon monoksida juga mengurangi kemampuan hemoglobin mengikat oksigen.

Berbagai studi telah membuktikan bahwa perokok lebih berisiko mengalami nonunion dan infeksi setelah operasi bila dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Pada pasien yang sudah berhenti merokok selama ≥4 minggu sebelum operasi, angka infeksi setelah operasi dilaporkan lebih rendah. Melihat bukti-bukti yang ada saat ini, Dokter perlu memberikan edukasi pada pasien untuk berhenti merokok, terutama pasien yang hendak menjalani operasi tulang elektif.

Referensi