Red Flag Penglihatan Kabur

Oleh :
dr. Anastasia Feliciana

Red flag atau tanda bahaya pada kasus penglihatan kabur dapat membantu dokter mengidentifikasi kasus mana yang disebabkan kegawatdaruratan dan memerlukan rujukan, serta mana yang tidak. Penglihatan kabur bisa disebabkan oleh gangguan oftalmologi seperti katarak dan glaukoma; gangguan neurologi seperti migraine dan multiple sclerosis; serta gangguan vaskular seperti stroke dan oklusi arteri retina sentral.[1,2]

Penglihatan kabur umumnya merujuk pada penurunan kejernihan penglihatan yang terjadi secara bertahap, dan sering kali berkesinambungan dengan penurunan visus. Pasien juga bisa menggambarkan gejala buta mendadak dan penurunan lapang pandang sebagai penglihatan kabur.[3]

shutterstock_790543327

Kemungkinan Penyebab Penglihatan Kabur

Secara garis besar, terdapat 4 mekanisme yang bisa menyebabkan terjadinya penglihatan kabur:

  • Kekeruhan dari struktur mata yang seharusnya jernih, misalnya kornea dan lensa
  • Kondisi medis yang mempengaruhi retina
  • Kondisi medis yang mempengaruhi saraf optik dan jejaringnya
  • Kelainan refraksi[2]

Etiologi Penglihatan Kabur

Penyebab tersering dari penglihatan kabur adalah gangguan refraksi, age-related macular degeneration (ARMD), katarak, dan retinopati diabetik.[3]

Penglihatan kabur juga bisa disebabkan oleh gangguan ekstraokular, seperti gangguan neurologi dan vaskular. Berikut adalah kemungkinan penyebab keluhan penglihatan kabur:

Kasus yang termasuk kegawatdaruratan adalah glaukoma akut sudut tertutup, perdarahan vitreus, ablatio retina, iridosiklitis akut, oklusi pembuluh darah retina sentral, neuritis optik, dan trauma  pada mata yang dapat menyebabkan dislokasi lensa.[2,4]

Red Flag Penglihatan Kabur

Red flag atau tanda bahaya penglihatan kabur menandakan perlunya rujukan atau tata laksana secepatnya. Red flag penglihatan kabur antara lain:

  • Awitan mendadak
  • Nyeri bola mata, dengan atau tanpa pergerakan
  • Defek lapang pandang yang diketahui dari anamnesis atau pemeriksaan fisik
  • Tampak abnormalitas retina atau diskus optik
  • Pasien dengan HIV atau kondisi imunosupresi lain
  • Kondisi medis sistemik yang bisa menyebabkan retinopati, seperti anemia sel sabit, diabetes, dan hipertensi

  • Keluhan penyerta berupa nyeri kepala dan kelemahan ekstremitas atau wajah
  • Gangguan bicara
  • Keluhan penyerta berupa mual, muntah, atau fotofobia
  • Riwayat trauma
  • Nyeri pada kulit kepala atau klaudikasio rahang
  • Riwayat penggunaan obat baru
  • Poliuria atau polidipsia
  • Adanya kilatan (flashes) atau floaters baru atau bertambah[2,3]

Sekilas Manajemen Pasien dengan Red Flag Penglihatan Kabur

Tata laksana pasien dengan red flag penglihatan kabur sangat tergantung dari penyebabnya. Secara garis besar, pasien dengan red flag memerlukan pemeriksaan lanjutan, tata laksana, atau rujukan segera.[5]

Anamnesis

Anamnesis dapat mempersempit diagnosis banding, sehingga membantu menentukan pemeriksaan lanjutan atau tata laksana kegawatdaruratan apa yang dibutuhkan. Pada anamnesis, tanyakan awitan gejala penglihatan kabur, gejala penyerta, intensitas nyeri bila ada, riwayat penyakit sebelumnya, riwayat pengobatan, atau riwayat minum minuman beralkohol.[4]

Lakukan klarifikasi lebih lanjut mengenai apa yang pasien maksud dengan penglihatan kabur. Pasien bisa saja menginterpretasikan penurunan kejernihan penglihatan, penurunan ketajaman penglihatan, buta mendadak, ataupun penyempitan lapang pandang sebagai penglihatan kabur. Tanyakan juga apakah keluhan terjadi pada satu atau kedua mata.[2,3]

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang

Pemeriksaan fisik sederhana yang dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama adalah pemeriksaan visus, refleks pupil, pemeriksaan lapang pandang dengan tes konfrontasi, pemeriksaan tekanan bola mata dengan palpasi atau tonometer Schiotz, pemeriksaan segmen anterior menggunakan senter, dan funduskopi direk.

Jika tersedia dan kondisi klinis pasien memungkinkan, lakukan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Pemeriksaan penunjang dapat berupa funduskopi indirek, USG mata, optical coherence tomography (OCT), dan fluorescein angiography.[4]

Gejala floaters dan fotopsia umumnya dianggap sebagai tanda awal terjadinya ablatio retina yang merupakan kegawatdaruratan di bidang mata. Namun, kedua gejala ini ternyata tidak spesifik dan dapat disebabkan oleh penyebab okular lain sehingga dokter umum perlu bisa menentukan kasus mana yang merupakan kasus emergensi yang perlu dirujuk segera ke spesialis mata, kasus nonemergensi yang tetap perlu dirujuk ke spesialis mata, serta kasus yang tidak perlu dirujuk dan dapat ditangani sendiri oleh dokter umum.[8,9]

Tata Laksana

Tata laksana penglihatan kabur disesuaikan dengan penyebabnya. Sebagai contoh, trauma mata open globe perlu ditutup tanpa memberi tekanan, kemudian rujuk pasien ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis mata. Jika pasien mengalami glaukoma akut sudut tertutup, setelah melakukan pemeriksaan tekanan intraokular (bila terdapat fasilitas), turunkan tekanan intraokular dengan pemberian obat, seperti acetazolamide, lalu segera rujuk ke dokter spesialis mata.[6,7]

 

 

Direvisi oleh: dr. Dizi Bellari Putri

Referensi